Muhammadiyah Bola Volly Team (MVBT)
Universitas Muhammadiyah Malang
Muhammadiyah Bola Volly Team (MVBT)
Universitas Muhammadiyah Malang

Macan Raksasa Pernah Hidup di Sangiran

Author : Administrator | Jum'at, 25 April 2014 11:02 WIB
Sangiran

KOMPAS.com - Macan raksasa diyakini pernah hidup pada masa 1,8-0,9 juta tahun yang lalu. Temuan tulang paha jenis karnivora ini di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, menggeser keyakinan selama ini mengenai macan yang mulai hidup pada masa 0,7-0,3 juta tahun yang lalu.

”Penemuannya sudah lebih dari dua tahun lalu pada 2011, tetapi kami belum pernah mempublikasikannya. Saat ini tulang yang kekar itu juga masih berada di konservasi dan belum dipajang untuk dilihat masyarakat,” ujar Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto di Jakarta, Selasa (15/4/2014).

Penemuan ini dahsyat karena selama ini orang mengira tidak pernah ada macan pada masa Homo erectus archaic (usia tertua). Tim dari situs Sangiran menemukannya di lempung hitam formasi Pucangan (Sangiran rawa). ”Ini adalah penemuan pertama. Otentik sekali. Ini adalah macan yang usianya sangat tua. Kami sudah cek dan konfirmasi kepada palaeontolog-palaeontolog dunia, dan mereka membenarkan,” kata Harry.

Pada masa archaic itu, semula diyakini hanya terdapat beberapa jenis hewan, sangat sedikit, ketika manusia mulai mengenal peralatan dari batu. Hewan yang hidup pada masa itu antara lainMastodon sp (gajah purba tertua, 1,5 juta tahun) dan Stegodon sp(gajah, 0,8 juta tahun). Pada masa itu, rawa-rawa lebih dominan daripada tanah.

Setelah manusia berevolusi hingga masa keemasan pada 0,7-0,3 juta tahun yang lalu, muncullah banyak sekali hewan, antara lainElephas namadicus (gajah, 0,4 juta tahun), Hippopotamus sp (kuda nil, 0,7 juta tahun), Cervidae (kijang, rusa), Bovidae (sapi, kerbau, banteng), Rhinoceros sp (badak), dan Suidae (babi). Pada masa ini Sangiran sudah menjadi hutan terbuka akibat endapan materi-materi kerikil, pasir, dan gamping yang menurupi seluruh rawa hingga mengeras.

”Menemukan paha saja rasanya luar biasa senangnya karena susah sekali bisa menemukan lagi. Tulang belulang sudah tercerai-berai, terkena erosi, dan lain-lain. Namun, kami terus berharap ada data baru sehingga ada kemajuan teori. Seperti ditemukannya paha macan ini, kan, mengubah teori yang terbangun selama ini,” papar Harry.

Arkeolog Universitas Indonesia, Hasan Jafar, menegaskan soal temuan-temuan baru yang mungkin terjadi. Ia mencontohkan goa-goa kapur yang belum lama ditemukan di Jawa Barat. ”Masih mungkin ditemukan fosil lain yang bisa sangat mencengangkan. Soal pertanggalannya, kan, ada metodenya, seperti juga dipakai dalam geologi,” terang Hasan.

Hasan menambahkan, kondisi dan kehidupan masa prasejarah bisa direkonstruksi dengan detail itu salah satunya dari temuan-temuan fosil. (IVV/KOMPAS CETAK)

http://sains.kompas.com

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image